Roadshow “2000 Anak Menentang Perdagangan Anak”

Pada bulan Desember tahun 2016, Yayasan KAKAK bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan Nasional menyelenggarakan kegiatan Road Show ke sekolah-sekolah di Surakarta dengan teman “2000 Anak Menentang Perdagangan Anak”.  Kegiatan ini dilakukan di SMP Al Islam 1 Surakarta, SMP Warga Surakarta, SMKN 7 Surakarta dan SMKN 8 Surakarta, di tiap sekolah pesertanya kurang lebih 500 anak.

Kegiatan ini diawali dengan melihat film “Kembang” merupakan kisah nyata yang menceritakan tentang pengalaman anak-anak korban perdagangan, awalnya bagaimana anak-anak mulai dibujuk rayu setelah berkenalan melalui media sosial, dibuat nyaman dan akhirnya anak dilarikan dari rumah dan menjadi korban eksploitasi baik secara seksual maupun ekonomi. Dalam film ini juga diceritakan tentang sikap orang tua yang sebelumnya tidak percaya anak mengalami kejadian ini dan bagaimana orang tua harus bersikap ketika tahu anak berada dalam situasi ini. Diakhir cerita menggambarkan tentang bagaimana anak-anak ini menyesal mengapa dulu mudah diperdaya dan mengajak anak-anak lain untuk berhati-hati dalam bermedsos.

Dalam kegiatan ini menghadirkan Narasumber Ibu Hastin sebagai perwakilan dari Kanit PPA (Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak) Polresta Surakarta. Beliau menyampaikan bahwasanya kasus perdagangan anak memang benar adanya. Dan di Solo pernah terjadi hal tersebut. Sikap anak yang suka barang barang bagus dan tidak diimbangi dengan uang yang dimiliki menyebabkan anak-anak rentan menjadi korban trafiking.

Pada akhir sessi anak-anak membubuhkan tanda tangan dalam spanduk, untuk berkomitmen bersama Menentang Perdagangan Anak. (Rh)


“Manten” Sosmed

KAKAK melakukan aksi di Car Free Day dengan tema Manten Sosmed, hal ini kami lakukan sebab banyak anak anak dibawah 18 tahun yang akhirnya menikah di usia dini. Kasus yang pernah didampingi oleh KAKAK yakni anak anak yang kenalan lewat media sosial seperti facebook kemudian menjalin hubungan serius sebagai pacar bahkan mereka berani melakukan hubungan layaknya suami istri. Ada orang tua yang tidak terima kemudian diperkarakan lewat hukum, ada juga orang tua yang akhirnya dengan rela menikahnya anaknya dengan dalih “sama sama suka”.

Aksi di CFD “Manten Sosmes” ini diikuti oleh perwakilan forum anak di Solo, mulai dari konsep acara sampai make up mereka lakukan dengan kreativitas. Antribut yang mereka gunakan juga sebagai sindirian kepada para anak anak maupun para orang tua untuk selalu mawas diri dalam berselancar didunia maya. Beberapa perwakilan anak ini membentuk komunitas dibawah bimbingan Yayasan KAKAK dengan nama HEYBRO (Healthy Young Browser).  Perwakilan Forum Anak sebelum melakukan aksi di CFD, mereka menjadi pendidik sebaya di 5 kecamatan yang ada di Solo. Mereka memberikan sosialisasi kepada anak anak di 5 kecamatan dan menekankan betapa pentingnya berselancar didunia maya dengan cara yang sehat.

Para pendidik sebaya ini memberikan sosialisasi seperti pengertian eksploitasi seksual itu apa, sebab para predator anak sekarang “bermain” lewat media sosial dan menyasar kepada anak anak. Selain itu mereka juga sharing media sosial apa saja yang digunakan para pelaku kejahatan sesksual. Dalam media sosial sendiri ada beberapa istilah yang harus anak anak tahu, sebab hal tersebut bisa berakibat buruk untuk mereka, seperti diperas, disebarkan foto pribadinya, bahkan diajak melakukan hubungan seksual. Terakhir, anak anak di ajak untuk berdiskusi dan sharing bagaimana tips tips untuk mencegah terjadnya kekerasan di media sosial dan bagaimana cara menggunakan media sosial dengan bijak.

Aksi CFD “Manten Sosmed” ini dilakukan pada 28 Januri 2018 di Jl. Slamet Riyadi, Solo dan mendapat banyak perhatian publik, baik masyarakat maupun media. Selain itu, anak anak juga melakukan poling tentang hak anak.  Dengan kegiatan tersebut diharapkan anak anak untuk berhati-hati dalam menggunakan media sosial. (Yd)


Pentas Boneka Tangan

Pentas boneka di TK Angkasa Karanganyar (22/10/2018 ), satu kepuasan sendiri ketika melihat anak-anak terpukau dan seringkali tertawa. Nampak antusias dan menikmati pentas boneka yang kami suguhkan. Hilang sudah lelah selama persiapan sampai aksi di sekolah. Inilah salah satu roadshow bersama dengan vouleenter mahasiswa. Membawakan boneka yang kita buat sendiri sungguh membuat lebih bahagia.

Cerita boneka kami pilih karena ramah dan dekat dengan anak anak, dan menyenangkan. Melihat anak anak fokus pada aksi kami sebuah kebanggaan yang luar biasa.

Boneka tangan sendiri kami pilih sebagai metode yang ramah anak dan merupakan Kekerasan seksual di tingkat masyarakat masih menjadi isu yang tabu, dan tidak banyak orang yang tahu. Di media jaman now seperti media sosial (facebook, instagram, whatsapp) sering ditemui kabar berkiatan dengan kekerasan seksual, begitu juga media mainstream (televisi, koran, radio).Karena itu penting buat menguatkan anak-anak agar mereka mampu melindungi diri sendiri dari kekerasan seksual.

Salah satu bentuk pencegahan kekerasa seksual untuk anak anak usia dini (12 tahun kebawah), KAKAK menggunakan metode yang disukai anak anak yaitu cerita

boneka tangan. KAKAK berkolaborasi dengan volunteer(mahasiswa) melakukan upaya pencegahan diwilayah yang rentan terjadinya kasus.

Sebelum terjun ke lapangan, KAKAK menguatkan volunteer mulai dari membuat boneka tangan, membuat konsep cerita, sampai membuat panggung untuk melakukan pentas boneka tangan.

Hal yang dikenalkan diantaranya bagian tubuh apa yang boleh dan tidak boleh dipegang, bagaimana jika ada orang asing yang mencoba melakukan hal yang tidak membuat anak nyaman, seperti mencoba meraba, mencium, serta mengajak pergi. KAKAK juga mengajakarkan mereka untuk bernyanyi bersama untuk masalah keserasan seksual biar anak lebih semangat (Yd)


Catatan Film “Sekar”

CUPLIKAN FILM SEKAR

SEKAR salah satu film dokumenter karya anak korban eksploitasi seksual tahun 2011. Film ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap anak-anak korban ESKA (eksploitasi seksual komersil anak).  Sekar anak kedua dari 5 bersaudara dari keluarga yang kurang mampu.  Dia hanya lulus  Sekolah Dasar dikarenakan tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan sekolah. Kehancuran hidup Sekar dimulai ketika pacarnya dengan tega mengambil keperawanan Sekar dan mencampakannya. Di saat itulah Sekar merasa hidupnya tidak ada lagi kebahagiaan ditambah dengan kondisi ekonomi keluarganya yang semakin terpuruk. Keluarganya terlilit utang dan keadaan memaksa Sekar untuk turut membantu keadaan ekonomi keluarga. Hal itu mengantarkan Sekar dalam dunia prostitusi. Dipicu kondisi yang tidak perawan lagi mendorong Sekar terjun dalam prostitusi karena ia merasa dirinya sudah tidak punya harga diri.

 Sekar pernah mencoba berhenti dari dunia prostitusi dan memutuskan untuk membuka usaha bersama keluarga namun justru dari pihak keluarga tidak adanya dukungan dan lebih mendorong Sekar tetap memberikan uang hasil menjadi PSK.

Sekar hanyalah satu kasus  keberadaan ESKA di Surakarta, kebanyakan kasus seperti Sekar ini masih terselubung atau tersembunyi. Data KAKAK menunjukkan kasus ESKA di Surakarta ini cukup tinggi. ESKA ini termasuk dalam perbuatan DEHUMANISASI, karena ESKA ini dilakukan dengan kekerasan , dan  di lingkungan masyarakat ESKA ini dianggap sampah masyarakat.

 KAKAK mengajak semua pihak termasuk pemerintah untuk melindungi anak-anak korban ESKA, tidak malah menyudutkan. Pemerintah menjadi pihak yang mempunyai tanggung jawab utama untuk mengatasi hal ESKA, didukung dengan kepedulian dari banyak pihak termasuk masyarakat. Anak-anak kita dimasa depan akan menjadi generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan perjuangan dalam membangun bangsa yang lebih merdeka.  Mari bersama lindungi anak-anak.(allys)


PENTINGNYA PEDULI DAN EMPATI

IMG_5894 copy

 Selama manusia itu masih hidup, dia akan selalu punya hak, dan harus diperlakukan sama seperti manusia yang lain.

 

 

Kutipan di atas merupakan sebuah kalimat yang dihasilkan dari keresahan akan menjamurnya pelanggaran yang dilakukan manusia terhadap hak-hak yang dimiliki oleh manusia yang lain. Manusia sendiri bukanlah individu yang dibatasi oleh usia, jenis kelamin, apalagi hanya sekadar strata sosial. Bukan sebuah rahasia pula ketika kita berbicara mengenai pelanggaran hak yang dialami oleh anak-anak, mengingat berdasarkan data tahun 2017 oleh KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) saja terdapat 116 kasus kekerasan seksual terhadap anak, dan 73,7% anak Indonesia mengalami kekerasan di rumahnya sendiri. Bukan sebuah angka yang sedikit, bukan? Ini bukan pula isu yang tidak perlu mendapat perhatian, karena anak-anak yang seharusnya juga memiliki hak perlindungan dan pendampingan, justru begitu rentan terhadap kekerasan bahkan pelecehan. Yayasan KAKAK (Kepedulian untuk Konsumen Anak) merupakan salah satu LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang memberikan fasilitas “luar biasa” kepada anak-anak melalui edukasi hingga advokasi untuk melindungi para korban anak tersebut.

 

Perlindungan terhadap anak yang dilakukan oleh KAKAK bukan hanya pada anak-anak yang menjadi korban dari produk-produk pasaran yang mereka konsumsi, namun lebih luas juga pada kekerasan hingga eksploitasi seksual yang dialami oleh anak-anak. Lebih dari itu, pelecehan (1) seksual, seperti: sentuhan yang tidak pantas, catcalling (siulan), pemerkosaan; (2) fisik, seperti: tamparan, pukulan, cubitan; (3) psikis, seperti: diancam, diejek, diremehkan; (4) ekonomi/eksploitasi, seperti: perbudakan, pelacuran anak, perdagangan anak; hingga (5) penelantaran/pengabaian, seperti: kurang gizi, kelaparan, dan kurangnya pengawasan merupakan kajian yang sangat diperhatikan oleh KAKAK untuk kemudian diambil tindakan. Untuk melakukan pendekatan kepada korban anak pun bukan merupakan hal yang mudah karena sangat membutuhkan kemampuan berdialog agar korban anak tidak merasa terintimidasi yang berpotensi untuk membuat mereka merasa semakin tidak aman (insecure) hingga menutup diri. KAKAK sendiri memiliki berbagai cara kreatif untuk menggali berbagai informasi dari korban anak, seperti Body Mapping dan menggambar Planet Kehidupan. Body Mapping adalah sebuah metode yang dilakukan oleh KAKAK guna mengetahui bagian-bagian mana saja dari tubuh mereka (target perlindungan) yang telah menerima kekerasan maupun pelecehan. Sedangkan Planet Kehidupan adalah sebuah metode yang kemudian dapat membantu fasilitator untuk mengetahui mengapa anak-anak tersebut menjadi korban ataupun pelaku kekerasan bahkan pelecehan melalui gambar yang mereka buat sendiri tentang bagaimana hubungan mereka dengan orang-orang dan lingkungan sekitarnya. (Ps: bahasan khusus mengenai Body Mapping, Planet Kehidupan, dan cara kreatif lain untuk menggali informasi oleh KAKAK akan ada di tulisan berikutnya)

 

Hari pertama belajar di Yayasan KAKAK sangat memberikan wawasan baru dan barmakna. Yayasan KAKAK telah memberikan pelajaran yang begitu berharga untuk saya sebagai seorang yang sangat awam terhadap dunia anak dengan berbagai macam ”kemelut” yang harus mereka hadapi yang ternyata bukan hanya sekadar berebut ayunan di taman bermain dengan temannya ataupun mengerjakan PR Matematika yang kata orang merupakan beban hidup terberat bagi anak-anak. Lebih dari itu, pelecehan seksual, fisik, psikis, ekonomi/eksploitasi, dan penelantaran/pengabaian adalah persoalan yang begitu dekat, sangat mengancam kehidupan anak-anak, dan sangat memengaruhi kelangsungan hidup mereka dimasa depan. Ini semua nyata terjadi, bukan hanya ilusi yang kemudian ditulis untuk menjadi bahan diskusi. Yang terpenting dari itu semua adalah kita harus memahami bahwa para korban anak bukanlah kelompok yang pantas disalahkan, dikucilkan, ataupun diasingkan, namun harus diperhatikan, didengarkan, didampingi, dan dilindungi.

 

 

 

Purwosari, 15 Maret 2018

Anindita Nur Hidayah (Relawan YC Pilar Solo – Magang Yayasan Kakak)


10 Hal Wajib disampaikan Guru kepada Murid Tentang Privasi di Internet

  1. ONLINECITIZENSHIP. Perlakukan orang lain sebagaimana diri kita ingin diperlakukan. Jika tak akan katakan sesuatu ke orang lain secara tatap muka jangan pula mengatakannya saat online.
  2. POSITIVITY. Selalu berpikir dan bertindak positip. berbagilah informasi yang bermanfaat bagi banyak orang. jauhilah perdebatan yang tidak ada gunanya ataupun yang dapat merugikan.
  3. YOUR INFORMATION. Jangan terlalu umbar data diri dan foto pribadi/keluarga di ranah online. Berbagi informasi yang umum saja. Jangan yang terlalu pribadi/personal tentang diri/keluarga.
  4. DATA MINING. Pilihlah dengan cermat dan jangan sembarang memasang aplikasi atau apps tambahan dari pihak ketiga di gadget ataupun akun media sosial yang kita gunakan.
  5. ONLINEACCOUNTS. Usahakan memiliki lebih dari 1 alamat email. Bedakan antara email untuk pekerjaan dan email untuk mendaftar media sosial dan layanan online lainnya.
  6. STATUS. Hindari/batasi posting foto atau update status ketika kita sedang jauh pergi berlibur.
  7. FRIENDS. Kenali betul siapa teman online kita. Karena tidak semua adalah benar benar teman kita. Jangan sembarangan menambah orang dalam jejaring media sosial kita.
  8. TALKD TO AN ADULT. Jika sedang merasa tidak nyaman atau ada hal yang membuat risau, segeralah bercerita kepada orangtua, guru atau orang dewasa yang dipercaya yang dekat dengan kita.
  9. GEO-TAGGING. Non Aktifkan (disable) fitur lokasi dan geo-tagging di gadget kita, kecuali jika kita memang perlu sekali untuk menggunakan layanan peta/navigasi sementara waktu.
  10. DIGITALFOOTPRINT. Pahami dan kelola settingan privasi kita di gadget dan di media sosial. Waspadalah. Karena ada sejumlah layanan yang mencatat dan menjejak aktifitas kita.

 

Informasi dan Grafis disadur dari freedomtoread.ca

317289


“Body Mapping Sebagai Media Pembelajaran Mengenai Pengenalan Bentuk Kekerasan Dan Perlindungan Diri PadaAnak”

Dewasa ini semakin marak kasus kejahatan pada anak seperti eksploitasi anak, kekerasan, penculikan, bahkan tak sedikit pula terjadi kasus pelecehan seksual pada anak. Hal ini sungguh memprihatinkan. Anak yang seharusnya memperoleh haknya sebagaimana diatur oleh undang-undang namun kini mereka justru dirampas haknya oleh orang-orang yang yang harusnya melindungi mereka.

“Kekerasan itu ada beberapa bentuk diantaranya kekerasan fisik dan kekerasan seksual.Terkait dengan kekerasan itu maka anak-anak perlu diajarkan cara-cara untuk melindungi dirinya dari kekerasan tersebut”. Hal tersebut diungkapkan oleh Nung pengurus dari Yayasan Kakak Surakarta saat memberikan pengenalan tentang Body Mapping yang diikuti oleh beberapa pengurus Yayasan Kakak dan juga peserta magang dari Sosiologi Fisip UNS, Jumat, 5 Januari 2018 di Aula Yayasan Kakak. Ada beberapa cara menarik yang bisa digunakan untuk mengenalkan bentuk kekerasan dan perlindungan diri pada anak salah satunya melalui Body Mapping. Boddy Mapping ini memberikan pemahaman mengenai pentingnya pengenalan tubuh anak sebagai upaya agar sejak dini anak-anak dapat menjaga tubuh mereka dan terhindar dari kekerasan baik fisik maupun seksual. Tujuan dari pembuatan body mapping ini adalah mengenalkan pada anak terkait bagian tubuh mana yang boleh disentuh dan yang tidak boleh disentuh oleh orang lain serta memberikan informasi yang diperlukan terkait tentang perlindungan diri.

Senang sekali rasanya ketika saya memperoleh pengenalan tentang body mapping di Yayasan Kakak Surakarta. Proses pembuatan body mapping itu diawali dengan menyiapkan kertas berukuran besar yang diberi gambar bentuk tubuh manusia, kemudian ditempel pada tembok. Setelah itu kami diminta untuk menandai bagian tubuh mana saja yang pernah mendapatkan kekerasan baik fisik maupun seksual yang dialami oleh anak. Hasilnya pun beragam, banyak yang menandai bagian tubuh yang memperoleh kekerasan fisik seperti dipukul, ditampar, dijewer, dicubit, ditendang, dan lain sebagainya. Namun tidak sedikit pula tanda yang diberikan pada bagian tubuh yang memperoleh kekerasan seksual, seperti dada, alat vital/kemaluan, pantat, dan lain sebagainya. Selanjutnya setelah mengetahui bagian-bagian tubuh yang memperoleh kekerasan fisik maupun seksual kemudian adalah merespon apabila kita mendapatkan perlakuan semacam itu, baik pada waktu terjadinya kekerasan maupun setelah terjadinya kekerasan tersebut. Bentuk dari respon tersebut bermacam-macam, diantaranya merasa sakit, sedih, marah, kecewa, teriak, melawan, melapor, dan lain sebagainya. Dengan demikian maka body mapping ini tidak hanya berfungsi untuk pengenalan bentuk kekerasan pada anak dan bagian-bagian tubuh anak yang menjadi privasi, namun juga sebagai media untuk mengetahui bagaimana bentuk perlindungan diri pada anak apabila memperoleh kekerasan tersebut. Selain itu juga menyampaikan kepada anak-anak agar tidak melakukan hal tersebut ke anak-anak yang lainnya. Yuk bersama-sama melindungi Anak Indonesia dari Kekerasan  (Elva Oktaviana – Sosiologi Fisip UNS)26781393_1767849929921459_224788617_o


DAFTAR SKRIPSI DI YAYASAN KAKAK

Pesan Iklan Pada Media Massa Cetak Dan Pengaruhnya Terhadap audience: Sebuah Penelitian tentang Pengaruh Iklan Kosmetik Citra Lotion pada media Massa Cetak terhadap Minat Beli Mahasiswa Putri Universitas Gadjah Mada. 1989. Sukomantoro. FISIP UGM

A Descriptive Study On “ Leads ” Used In The Jakarta Post. 1997. Budi Purnama. Faculty Of Teacher Training And Education Muhamadiyah University Surakarta.

Tinjauan Yuridis Terhadap Pelaksanaan kesepakatan Kerja Bersama (Studi Kasus Di PT. Sritek Sukoharjo). 2001. Joko Masyudi. FH UMS.

Negara dan Konsumen (Studi tentang Perlindungan Hukum terhadap Konsumen atas Kualitas Produk Makanan Hasil Industri Rumah Tangga di Surakarta). 2002. Ika Aditama Sakti. FH UMS.

Implementasi Gugatan Legal Standing Sebagai Salah Satu Upaya Hukum melindungi Konsumen (Studi Kasus Promosi Rokok Pall Mall di Kota Surakarta). 2003. Luna Pintarina. Program Pascasarjana UNS.

Efektifitas Pemberian Pendidikan Konsumen Melalui Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Kesadaran Hak- Hak Konsumen Pada anak. 2004. Abidah Wafaa. Fakultas Psikologi UMS.

Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kooperatif Tipe Jigsaw Aspek Pewrtidak Samaan Linear Satu Peubah pada Siswa Kelas VII Semester I Sekolah Menengah Pertama Negeri II Ngadirojo Tahun Pelajaran 2004/2005. 2005. Suratmi. FKIP UNIVET Sukoharjo.

Perlindungan Hukum Terhadap Korban Tindak Pidana Woman Trafficking di Indonesia (Studi Kasus di Yayasan KAKAK / SPEK-HAM Surakarta). 2005. Heni Kurniawati. FH UNS.

Pemeriksaan dan Perlindungan Terhadap Anak di Bawah Umur Sebagai Saksi Korban Dalam Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang Dilakukan oleh Anggota Keluarga (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta). 2005. Mirna Saraswati. FH UNS.

Penyesuaian Sosial Remaja Korban Kekerasan Seksual. 2005. Nurul Fitriyah. Fakultas Psikologi UMS.

Perempuan Korban Pelecehan Seksual dan Peran Lembaga Swadaya Masyarakat (Studi Kasus Masalah Perempuan Korban Pelecehan Seksual di LSM SPEK-HAM dan LSM KAKAK Surakarta). 2005. Fenny Maria. FKIP UNS.

Studi Kualitatif Tentang Dampak Kekerasan Seksual Terhadap Perilaku Anak-Anak. 2005. Oktaviana Dhamayanti. Fakultas Psikologi UMS.

Teater Sebagai Media Kampanye Anti Perdagangan Anak (Analisa Deskriptif Kualitatif Tentang Efektifitas Kegiatan Teater Pelangi Sebagai Media Kampanye Yayasan Kakak Surakarta Mengenai Perdagangan Anak Tahun 2001-2004). 2006. Ajeng Mayasari. FISIP UNS.

Kampanye Perlindungan Anak Dari Tindak Kekerasan Melalui Desain Komunikasi Visual. 2006. Adam Ari Surya. FSSR UNS.

Strategi Komunikasi Program Pendampingan Terhadap Anak Korban Kekerasan Seksual (Studi Deskriptif Strategi Komunikasi Program Pendampingan Terhadap Anak Korban Kekerasan Seksual di Yayasan Kakak Surakarta). 2006. Sakti Hartanti. FISIP UNS.

Peran Seni Teater Dalam Kaitannya Dengan Interaksi Sosial Anak- Anak Korban ESKA di masyarakat (Kajian Sosiologis terhadap Interaksi Sosial Anak- anak ESKA sebagai Pelaku Seni Teater di Yayasan Kakak Kota Surakarta. 2008. Diyanita Catur Rini. FISIP UNS.

Strategi LSM Kakak (Kepedulian Untuk Konsumen Anak) Dalam Pemberdayaan Anak- Anak Korban ESKA (Ekploitasi Seksual Komersial Anak) di Surakarta. 2009. Nur Aini. FISIP UNS.

Perancangan Animasi 3D Pasukan Semut Merah Sebagai Media Kampanye Guna Menanamkan Rasa Solidaritas Terhadap Anak. 2010. Ratno Murdiat. FSSR UNS.

Pencegahan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (Studi Tentang Partisipasi Yayasan “Kakak” di Surakarta). 2011. Dewi Damayanti. FKIP UNS.

Peran Aktivis LSM Kakak Dalam Pemberdayaan Korban ESKA di Kota Surakarta. 2011. Novita Rinindya. FISIP UNS.

Evaluasi Program Pengurangan Resiko Bencana di SD N Banyuanyar 3 Surakarta oleh Yayasan Kakak. 2014. Clara Pedika Putri. FISIP UNS.

Bimbingan Pribadi dalam Penanganan Korban Kekerasan dan Pelecehan Seksual pada Anak di Yayasan Kakak Surakarta. 2015. Muhamad Abdul Kohar. Fakultas Ushuludin dan Dakwah IAIN Surakarta.

Kemitraan Pemerintah dan LSM dalam Program Perlindungan Anak dalam Mewujudkan Kota Layak Anak di Kota Surakarta. 2016. Dita Mufrita. FISIP UNS.

Peran Yayasan Kakak dan Stakeholders dalam Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Seksual Terhadap di Kota Surakarta. 2016. Roselina Diyan Palupi. FISIP UNS.

Pengaruh Pelatihan Konsep Diri Terhadap Peningkatan Penerimaan Diri pada Remaja Korban Pelecehan Seksual di Yayasan Kakak Surakarta. 2016. Ajeng Nova Dum Pratiwi. FK UNS.

Peran Yayasan Kakak dalam Pelatihan Kewirausahaan Pada Remaja Putus Sekolah di Kelurahan Semanggi Surakarta (Studi Evaluatif Program Pengembangan Ekonomi Kreatif pada Remaja Beresiko Berbasis Pemberdayaan di Yayasan KAKAK Surakarta). 2017. Syifa Pratiwi. FISIP UNS.

26937934_1772111412828644_1944710243_o


SI ANAK PENASARAN?

 

DSC00013

 

Pernahkan mengalami suatu momen ketika orangtua sedang melakukan sesuatu lalu si anak melihat tindakan tersebut?. Tanpa disadari anak sedang dalam proses mengamati dan mulai mengemukakan apa yang ada difikirannya sebagai wujud dari rasa penasarannya. Inilah yang dinamakan modelling seperti yang pernah di kemukakan oleh Albert Bandura, pada proses tersebut anak sedang gencar-gencarnya mengamati dan meniru suatu tindakan yang ada di sekelilingnya. Orangtua yang tanggap pada pertumbuhan anak secara otomatis akan mementingkan dirinya untuk memberikan suatu tindakan verbal atau perilaku yang baik pula.Namun terkadang orangtua tidak sadar bahwa anaknya sedang mengamati tindakannya, contoh seorang ibu yang sedang memotong sayuran menggunakan pisau di dapur, lalu si anak mengatakan “itu apa bunda?” lalu ibu menjawab “ini pisau”. Tidak jarang orangtua hanya memberikan jawaban singkat tanpa memberi penjelasan sebenarnya, bisa saja si anak meniru hal tersebut tanpa sepengatahuan orangtuanya, padahal pisau bisa saja melukai anak, oleh karena itu sebaikanya sang ibu memberikan penjelasan “ini namanya pisau, biasanya digunakan untuk memotong sayuran, buah dll, pisau ini tajam makanya bunda kalau memotongharus hati-hati, adik kan masih kecil jadi belum boleh pake pisau ini ya, biar bunda aja yang pake”.Disinilah fungsinya orangtua memfasilitasi si anak dalam masa tumbuh kembangnya dengan menjelaskan kalau pisau ini tajam jadi tidak boleh buat main-main, dan buatlah si anak paham dampak positif dan negatif atas suatu hal yang menjadi rasa penasaran itu, tentunya dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga si anak mengatahui batasan  yang tidak boleh dilakukan di usianya, selain  mendapatkan pemahaman anak juga semakin kaya akan kosakata. Jadi jangan pernah lelah menjelaskan tentang apa saja yang membuat anak penasaran, semakin anak tumbuh dan berkembang dengan baik maka semakin tinggi pula rasa penasaran yang dimilikinya.(Beta Mayangsari – Volunter Yayasan Kakak – Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Psikologi)


SELFIE BOLEH…TAPI TETAP JADI KONSUMEN CERDAS DONG

11357222_1081407375220450_7212200878570949371_o

Trend memotret makanan sebelum dimakan menjadikan salah satu remaja guyonan yang mengantarkan salah satu anak menjadi pemenang lomba meme “gerakan konsumen cerdas, mandiri dan cinta produk dalam negeri” yang pernah diadakan oleh Yayasan Kakak dan Disperindag Kota di Taman Balekambang Surakarta.

Di meme tersebut digambarkan seorang anak perempuan yang memiliki es krim kemudian  dia membaca tanggal kadaluarsanya difoto baru dimakan. Itulah gambaran kecil mengenai bagaimana menjadi konsumen cerdas, teliti sebelum membeli barang,  mengkonsumsi sesuatu sehingga aman bagi dirinya sendiri dengan cara memperhatikan label dan masa kadaluarsa. Selain itu konsumen yang cerdas itu juga lihatlah label SNI yang tertera dalam kemasan karena itu berarti produk/barang dipastikan aman. Dan yang pasti Konsumen yang cerdas bisa membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang hanya keinginan semata.

Dengan adanya lomba meme itu kami berharap bahwa anak-anak  bisa ikut menjadi konsumen yang cerdas sekaligus bisa mengkampanyekan hal tersebut kepada teman-teman sebayanya sekaligus keluarga dan lingkungan sekitarnya. (Nung)